Makalah Mappadendang

Home » » Makalah Mappadendang
KATA PENGANTAR

Puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, karena atas campur tangan-Nya sehingga penyusunan makalah dalam tradisi mappadendang dapat terselesaikan dengan baik meski tidak sempurna. Dan makalah ini sebagai bukti bahwa penulis telah menyelesaikan dengan baik.
Penyusunan makalah tradisi mappadendang ini adalah salah salah satu bentuk kerjasama dalam kelompok ini.
Dengan ini penulis berterima kasih kepada semua pihak yang telah membantu penulisan makalah ini. Dan telah memberikan kesempatan untuk penulis. Laporan ini dapat terbuat dan diselesaikan dengan adanya bantuan dari pihak narasumber, Oleh karena itu, penulis sangat mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun dari para pembaca.
Akhir dari kesempatan ini penulis menyampaikan terima kasih kepada semua pihak yang turut membantu dalam upaya penyelesaian laporan ini. Penulis berharap Semoga dengan adanya makalah ini dapat bermanfaat khususnya bagi penulis sendiri dan bagi para pembaca umumnya. Akhir kata, penulisi memohon maaf apabila dalam penulisan makalah ini terdapat banyak kesalahan.
Lakadaung, 4 Desember 2016
                                                                                                            Penulis





DAFTAR ISI
Sampul …………………………………………………………………………......……….i
Kata Pengantar…….........………………………………………………………………ii
Daftar Isi…………………………………........……………………………………......….iii
BAB 1 PENDAHULUAN……………….......…………………………………..……..1
A.     Latar belakang …………………………….......…………………………..…...2
B.     Permasalahan……………………………….......……..………………....……..2
C.     Tujuan …………………………………….......……………………..………..……2
D.     Manfaat Penulisan ….…………………….......…………………....……..…2
BAB 2 PEMBAHASAN ……………………….......………………………...…..…....3
BAB 3 PENUTUP ……………………………….......…………………..……….….....6
A.     Kesimpulan ……………………………………………..………………......…...6
B.      Saran ……………………………………………..…………………….........…….6
Daftar Pustaka……………………………..……………………………...…......……..7

BAB I
PENDAHULUAN
A.     LATAR BELAKANG
Seiring dengan maraknya isu globalisasi, kita dituntut agar menjaga dan melestarikan kebudayaan kita. Kebudayaan yang ditinggalakan nenek moyang kita tidak akan ternilai harganya, sangat banyak manfaat yang diberikan dari karya orang terdahulu. Melupakan budaya sama saja dengan mengkhianati pendahulu kita, dimana mereka telah berjuang, baik pikiran dan tenaga untuk membangun suatu ide yang dapat membangkitkan semangat kerja serta gotong royong orang melalui berbagai media atau kebudayaan. Peran generasi muda diperlukan untuk melestarikan budaya tersebut sebagai perwujudan cinta dan turut mengisi kemerdekaan para nenek moyang kita.
Para generasi muda saat ini umumnya banyak yang lupa atau bahkan tidak tahu tentang kebudayaan daerahnya sendiri, maka jangan heran jika kebudayaan kita dibajak orang lain. Orang dengan mudah meniru warisan leluhur kita, sedangkan kita tidak bisa berbuat apa-apa.
Di Provinsi Sulawesi Selatan terdapat berbagai macam suku yang bercampur baur satu sama lain, namun cukup ada empat suku yang besar di wilayah ini, yakni: Bugis, Makassar, Mandar dan Toraja. Dengan beragamnya suku tidak membuat suatu perbedaan bagi masyarakat Sulawesi Selatan. Suku Bugis adalah salah satu suku yang mendiami wilayah Sulawesi, khusunya Sulawesi Selatan. Mayoritas wilayah Sulawesi Selatan didominasi oleh suku bugis, hampir diseluruh wilayah ada orang bugis. Dapat dikatakan bahwa suku bugis adalah suku yang paling tua di Sulawesi Selatan.
Sebagai suku yang dikenal sebagai perantau dan pelaut yang tangguh, bugis tidak hanya meraih sukses di daerahnya saja, mereka bahkan merambah seluruh wilayah Indonesia. Boleh dikatakan bahwa diseluruh wilayah Indonesia pasti ada orang bugis, itu dapat dibuktikan dengan kegigihan orang bugis dalam meraih sukses di negeri rantau. Tidak hanya sampai disitu, perantauan orang bugis juga sangat dikenal di berbagai Negara di dunia.
Hal tersebut di atas didukung dengan peralatan transportasi yang cukup hebat, yakni Perahu Pinisi. Perahu ini cukup dikenal di berbagai belahan dunia, dengan perahu ini orang bugis bisa berlayar keseluruh penjuru dunia. Ketangguhan para pelaut bugis-makassar merupakan suatu asset yang luar biasa bagi Sulawesi Selatan pada khususnya dan Indonesia pada umumnya.
Seiring berjalannya waktu, keaslian suku bugis sudah mulai dipudar, hal ini didasari atas tuntutan zaman. Kita sudah sulit membedakan antara orang bugis asli dengan orang bugis-makassar atau orang bugis-mandar. Perkawinan dan perantauan menjadikan suatu keberagaman yang dijadikan satu.


B.     PERMASLAHAN
1.      Apakah pengertian mappadendang ?
2.      Apa sajakah nilai yang terkandung dalam acara mappadendang ?
3.      Bagaimanakah kegiatan dalam acara mappadendang ?
4.      Pengertian Tudang Sipulung ?


C.     TUJUAN PENELITIAN
1.  Untuk melesatarikan kebudayaan daerah khususnya suku Bugis di Sulawesi Selatan
2.  Untuk mengingatkan generasi muda agar mencintai daerahnya yang memiliki keragaman budaya serta didalam menjaga warisan dan asset budaya dari nenek moyang kita.

D.     MANFAAT PENULISAN
Agar pembaca dapat menyadari adanya tradisi-tradisi atau adat-adat yang ada di daerah suku Bugis, sehingga tidak melupakan kebiasaan yang dilantunkan dari nenek moyang leluhur kita, kepada generasi penerus negeri Indonesia.



BAB II
PEMBAHASAN
A.    Pengertian Mappadendang
Mappadendang adalah salah satu acara yang merupakan rangkaian kegiatan di dalam tudang sipulung. Acara tudang sipulung adalah yang dibuat dalam rangkaian pesta panen rakyat atau masyarakat suku bugis.


B.     Nilai Budaya dan Karakter Bangsa dalam Tradisi Mappadendang
Acara ini menjadi ajang hiburan bagi para tamu yang hadir, karena di dalam mappadendang mempertunjukkan aksi menumbuk padi secara gotong royong. Selain sangat menghibur bagi hadirin juga menunjukkan suatu pernyataan sikap dan kebersamaan para petani bugis dalam hal ini selalu bergotong royong.
Setelah melaksanakan panen raya masyrakat melakukan ritual adat sebagai rasa syukur kepada maha pencipta yang telah memberikan hasil panen yang melimpah sekaligus juga sebagai penghargaan bagi para petani yang telah bekerja keras mengelolah usaha taninya, yakni dengan ditunjukkan hasil panen yang bagus. Seperti yang telah disebutkan diatas, bahwa konsep yang diusung didalam mappadendang ini adalah semangat gotong royong petani untuk menghasilkan beras yang siap untuk di masak.
Konsentrasi dan kedisiplinan diperlukan didalamnya agar tidak membuat kesalahan yang dapat berakibat fatal, baik itu irama musik bahkan bisa membuat tangan-tangan wanita yang memasukkan padi tertumbuk oleh alu (alat penumbuk padi).

C.     Kegiatan yang dilakukan dalam mappadendang
Mappadendang biasanya dilakukan sebelum acara tudang sipulung, pelaksanaanya melibatkan beberapa petani baik itu pria maupun wanita, semuanya bergerak menumbuk padi disertai gerak tarian Padendang Bugis. Wanita bertugas untuk memasukkan padi ke dalam palungeng (tempat menumbuk) sedangkan kaum pria bertugas untuk menumbuknya menggunakan alu (alat penumbuk padi). Alunan tumbukan yang seragam menghasilkan irama yang enak di dengar dan tentunya menghibur.

D.    Tudang Sipulung
Acara tudang sipulung adalah yang dibuat dalam rangkaian pesta panen rakyat atau masyarakat suku bugis. Setelah melaksanakan panen raya masyarakat melakukan ritual adat sebagai rasa syukur kepada maha pencipta yang telah memberikan hasil panen yang melimpah sekaligus juga sebagai penghargaan bagi para petani yang telah bekerja keras mengelola usaha taninya, yakni dengan ditunjukkan hasil panen yang bagus.
Pelaksanaan tudang sipulung biasanya dilakukan dalam suatu areal terbuka atau lapangan atau biasa juga dilakukan di kolong rumah (panggung) pemuka adat atau kepala pemerintahan setempat. Peserta yang hadir biasanya dari seluruh petani dan keluarga tani kampung atau daerah setempat, semuanya berkumpul untuk memeriahkan acara. Mereka berbondong-bondong bersama para keluarganya, dengan membawa seluruh anak-anak mereka.

Selain untuk tujuan pesta, pelaksanaan tudang sipulung juga dimanfaatkan oleh para aparat setempat untuk mengadakan pembinaan petani dalam hal ini melaksanakan kegiatan penyuluhan. Di dalam materi yang disampaikan pada menyangkut seluruh kegiatan usaha tani, misalnya masalah-masalah yang dialami petani selama masa bertanam sampai panen serta bagaimana pemecahan masalah petani tersebut. Dengan adanya penyuluhan itu diharapkan hasil panen musim tanam berikutnya dapat meningkat atau paling tidak dapat dipertahankan.


Di forum Tudang Sipulung inilah dirumuskan pola-pola pertanian yang akan dilakukan. Mulai dari waktu menanam, jenis benih yang disemai, sampai kepada pola pembagian irigasi, semuanya disusun dan disepakati lewat Tudang Sipulung.
Tudang sipulung membuat petani merasa sangat terbantu, yakni disamping ucapan rasa syukur atas hasil panennya juga mereka dapat memperoleh ilmu dan wawasan yang lebih. Harapan petani juga sama yakni berharap agar pada musim tanam berikutnya dapat memperoleh hasil panen yang lebih melimpah.

Sebagai petani kecil yang menggantungkan hidupnya kepada hasil panen, baik itu untuk dikonsumsi sendiri maupun untuk dijual jika ada kelebihan. Petani akan menjual hasil panennya kepada tengkulak atau pedagang pengumpul yang bersedia menampungnya.

Selain untuk tujuan di atas, acara tudang sipulung juga memberikan peluang bagi terciptanya hubungan yang erat antara pemerintah dengan para petani yang bersangkutan. Untuk itu petani akan merasa terbantu dalam hal kebijakan pemerintah yang berpihak kepada petani. Silaturahmi antara pemerintah dengan para petani sangat membantu kepada peningkatan produksi hasil panen daerah, petani sebagai pelaku utama perlu diberi perhatian khusus agar mereka semakin bersemangat untuk berusaha tani.

Ritual yang biasanya dilakukan di dalam acara tudang sipulung ini ada beberapa poin, selain kegiatan penyuluhan juga ada kegiatan penting yakni mappano’ ase’ (serah panen), kegiatan ini dilakukan dalam rangkaian acara syukuran. Padi yang diserah adalah padi hasil panen petani, padi biasanya di simpan di rumah ketua adat setempat atau yang dipercayakan. Selebihnya hasil panen dapat dikonsumsi atau dijual, Sedangkan untuk padi yang diserah nantinya akan dijadikan lagi sebagai benih bibit padi baru untuk musim tamam padi tahun berikutnya.

Wilayah Sulawesi Selatan dikenal dengan produksi padi nasional yang cukup tinggi, dan merupakan salah satu penyumbang surplus beras nasional, maka tidak salah jika. Sulawesi Selatan dijuluki dengan lumbung padi Indonesia.




BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan
Kebudayaan yang diwariskan oleh nonek moyang kita adalah tidak ternilai harganya. Kebudayaan suatu daerah adalah menggambarkan suatu sikap atau prilaku dari jati diri suatu daerah/suku. Selain menggambarkan jati diri dan kebiasaan sehari-hari, kebudayaan juga mengandung pesan yang ingin disampaikan kepada para generasi muda sebagai penerus masa depan negeri.

B.     Saran
1.      Untuk menjaga kelestarian budaya nasional, para generasi muda sebagai generasi penerus harus tahu, mengerti dan dapat mempraktekkannya.
2.       Agar kebudayaan kita tidak bibajak oleh pihak luar sebaiknya kita bentengi dengan menghargai setiap aspek kebudayaan yang ada.



DAFTAR PUSTAKA
.
Share this article :